Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Beli Pulsa Listrik Disini

www.opulsa.com

Monday, December 28, 2015

Tujuh Hari Kematian Soeharto

Princes.in - keluarga mendiang mantan Presiden Soeharto membagi-bagikan paket sembako di sejumlah tempat seperti Ndalem Kalitan, Astana Giribangun Karanganyar, Momumen Tien Soeharto dan rumah dinas Bupati Wonogiri, Sabtu (2/2). Sebanyak 3.000 paket sembako dibagikan kepada warga yang ikut membantu keluarga dengan mengikuti tahlilan hingga tujuh hari kematian Soeharto", menurut Tempo Interaktif Solo, 2 Pebruari 08.

"Oh, alangkah bagusnya. Alangkah indah dan mulia hatinya, "memberi makan" rakyat miskin yang memang hidup serba kekurangan, melarat dan kelaparan", selintas tentu kita akan berpikir begitu. Namun, tunggu dulu! Menurut pembantu Rumah Tangga Kalitan, Edy Woro Seyanto paket sembako yang masing-masing bernilai Rp 75 ribu itu dibagikan kepada warga yang ikut membantu keluarga dengan mengikuti tahlilan hingga tujuh hari kematian Soeharto.
Tujuh Hari Kematian Soeharto

Ohh.., rupanya, ini adalah "upah"! Upah karena ikut tahlilan hingga tujuh hari kematian Soeharto. Jadi bukannya memberi gratis kepada rakyat miskin!

Namun, menurut berita my RMnews Solo, "pembagian sembako di rumah keluarga Soeharto itu, diwarnai kericuhan, sebab, "rakyat" yang dibiarkan menunggu, antre berjam-jam, walapun mereka memegang girik (kupon) tidak dibenarkan masuk bahkan pintu gerbang ditutup oleh Petugas Keamanan Dalem Kalitan". Dan istimewanya, "Warga yang mendapat sembako kebanyakan mereka yang tergolong mampu. Karena girik itu kami bagikan kepada warga yang datang tahlilan semalam (1/2). Jadi tidak dipilih-pilih," terang Edy Woro Setyanto, pembantu rumah tangga Dalem Kalitan, di sela-sela pembagian sembako, seperti yang diberitakan my RM News Solo.

Nah, jadi pembagian sembako itu bukan kepada rakyat biasa yang miskin, lapar dan sengsara., namun kepada mereka yang tergolong mampu! Ini berarti kroni-kroni Soeharto yang menangisi kepergiannya dan tahlilan sampai 7 malam. Mereka mendapat sembako Rp. 75 ribu, kalau uang sebanyak itu dibelikan beras akan bisa dapat kira-kira 15 kilo!

Dengan demikian apakah keluarga Cendana itu bisa dikatakan telah mendermakan harta kekayaannya untuk orang miskin? Memperhatikan nasib bangsa yang kere dan sengsara? O, tidak sama sekali. Apa yang mereka lakukan itu, hanya ibarat menjatuhkan rimah-rimah makanan di bawah meja, dimana coro dan semut yang kelaparan berebutan untuk mendapatkannya. Apa yang dilakukannya itu hanyalah untuk menutupi, supaya orang tidak melihat lebih jauh, menyelidiki lebih jauh akan kekayaan dan harta keluarga Soeharto yang diperolehnya selama dia berkuasa. Supaya orang lupa akan uang puluhan ribu yang diuntil-until, dijadikan kembang untuk kado kroni-kroninya Soeharto ketika perkawinan cucunya! Begitulah "kebaikan" Soeharto dan keluarganya!

Begitu juga, ketika Soeharto sakit dan meninggal banyak tokoh, pemimpin Negara-negara tetangga yang datang menjenguk dan memberi rekomendasi akan jasa, kebaikan, kehebatan, dan hubungan erat mereka dengan Soeharto, namun menutupi kebejatan, kebrutalan dan kekejaman Soeharto dalam membunuhi bangsanya, menyiksa dan membunuh pelan-pelan Presiden pertama RI Bung Karno, setelah kedudukannya yang dengan licik dirampok oleh Soeharto.

Mengapa semua tokoh luar berdatangan ketika sakit dan meninggalnya Soeharto? Bukan saja dikarenakan untuk menjaga hubungan baik dengan Pemerintah Indonesia yang sekarang, yang secara berlebihan dan super istimewa melakukan perawatan dan melaksanakan penguburan Mantan Presiden Soeharto, tapi juga mengingat "kepentingan ekonomi", berhubung dengan adanya sebagian kecil harta kekayaan keluarga Soeharto, yang berada di negara mereka.

Dan catatan "Sebagian Kecil Harta Keluarga Soeharto di luar negeri" bersama ini saya turunkan, agar bisa diketahui oleh rakyat yang selama ini diperbodoh, diplaster matanya oleh Soeharto dan kroni-kroninya hingga tidak bisa "melihat". Dan juga buat mereka yang mengagungkan dan meng-anggap Soeharto banyak "jasanya", agar matanya juga bisa melek, bahwa mereka sebenarnya telah dikelabui oleh kepintaran dan kelicikan Soeharto!

Di bawah ini adalah daftar yang dikutip dari http://kontak.club.fr/index.htm, yang diperoleh dari sumber yang mengumpulkannya yaitu "http://www.hamline.edu/%20apakabar/index.html, sebagai berikut:

"Daftar ini baru meliputi sebagian kecil saja kekayaan keluarga besar Suharto berwujud rumah, kawasan perburuan, kapal layar mewah, serta perusahaan properti dan perusahaan tanker yang sebagian atau seluruhnya milik keluarga bekas kepala Negara, ketiga terkaya di dunia. Ini belum lagi saham mereka dalam puluhan perusahaan di luar negeri.


Di Britania Raya (UK)

Lima rumah seharga antara 1-2 juta Poundsterling (1 Poundsterling = Rp 18.000) di London, yang terdiri dari:
Rumah Sigit Harjojudanto di 8 Winington Road, East Finchley
Rumah Sigit Harjojudanto di Hyde Park Crescent
Rumah Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) di daerah Kensington
Rumah Siti Hediyati Haryanti (Titiek Prabowo) di belakang Kedubes AS di Grosvernor Square
Rumah Probosutedjo di 38A Putney Hill, Norfolk House, London SW.15/6 AQ : 3 lantai, dengan basement.
(sumber-sumber: Tiara , 5 Desember 1993: 35; Forum Keadilan , 1 Juni 1996: 47; Dewi , Juni 1996; Swa , 19 Juni - 9 Juli 1997: 85; Far Eastern Economic Review , 9 April 1998; mahasiswa Indonesia serta wartawan Inggris dan Indonesia di London dan Jakarta).


Di Amerika Serikat

Dua rumah Dandy N. Rukmana dan Dantu I. Rukmana (anak laki-laki dan anak perempuan Tutut) di Boston, dengan alamat:
60 Hubbard Road , Weston, Massachussets (MA) 02193 (sejak Juli 1995)
337 Bishops Forest Drive , Waltham , MA 02154 (sejak Februari 1992)
Dua rumah anak-anak Sudwikatmono di:
Hillcrest Drive , Beverly Hills , California ,
Doheney Drive , Beverly Hills , California
Rumah peristirahatan keluarga Suharto di Hawaii. (sumber-sumber: Eksekutif , Maret 1990: 133-134; Tiara , 5 Desember 1993: 35; Far Eastern Economic Review , 9 April 1998; Ottawa Citizen , 16 Mei 1998; hasil investigasi aktivis pro-demokrasi Indonesia di AS)


Di Daerah Laut Karibia

Rumah-rumah peristirahatan keluarga Suharto di Kepulauan Bermuda dan Cayman (sumber-sumber: Ottawa Citizen , 16 Mei 1998; Die Welt , 23 Mei 1998)


Di Suriname

Raden Notosoewito, adik tiri Suharto dari Desa Kemusuk, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, adalah ketua Yayasan Kemusuk Somenggalan. Yayasan ini adalah pemegang saham PT Mitra Usaha Sejati Abadi (MUSA), holding company dari satu konglomerat yang punya berbagai bidang usaha di Indonesia (Solo, Yogya, Malang, DKI Jaya), Singapura, Hong Kong, dan Suriname.

Di negeri yang tersebut terakhir itu, Suriname, konglomerat ini pada tahun 1993 mendapat konsesi hutan seluas 150 ribu hektar di Distrik Apura, Suriname bagian Barat. Konsesi itu merupakan awal dari rencana MUSA untuk menanamkan modal sebesar US$ 1,5 milyar, sebagian besar untuk sektor kehutanan. Konsesi hutan ini, serta praktek MUSA Group untuk juga memborong kayu dari daerah di luar konsesinya sendiri, telah mendapatkan serangan dari gerakan lingkungan di mancanegara.

Selain dampak lingkungan dan budayanya yang sangat merusak bagi suku-suku Amerindian Maroon di Distrik Apura, yang juga jadi sorotan adalah bagaimana konsesi itu diperoleh berkat 'diplomasi tingkat tinggi' antara Suharto, sebagai Ketua Gerakan Non-Blok waktu itu, dengan para petinggi Suriname yang keturunan Jawa, khususnya Menteri Sosial Suriname, Willy Sumita. Diplomasi tingkat tinggi, di mana konon uang sogokan sebanyak US$ 9 juta berpindah ke tangan para politisi, dikenal di sana dengan istilah "The Indonesian Connection". Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Yayasan Kemusuk Somenggalan, yang beroperasi di Paramaribo, Ibukota Suriname dengan bantuan Kedubes RI di sana, adalah menawarkan bantuan untuk renovasi Istana Presiden Suriname. Proyek itu ditawarkan untuk diborong oleh anak perusahaan MUSA sendiri. (sumber-sumber: Kompas , 15 Maret 1993, hal. 14 [iklan ucapan selamat atas terpilihnya Suharto dan Tri Sutrisno sebagai Presiden & Wk. Presiden RI]; EIA, 1996: 32; Skephi & IFAW, 1996; Friedland & Pura, 1996; Harrison, 1996; de Wet, 1996; Toni and Forest Monitor, 1997: 26-27, 29-30)


Di Aotearoa (New Zealand)

Kawasan wisata buru seluas 24,000 Ha bernama Lilybank Lodge di kaki Mount Cook dan di tepi Danau Tekapo di Southern Island bernilai NZ$ 6 juta (1 NZ$ = Rp 4000), yang dibeli lisensinya dari Pemerintah NZ oleh Tommy Suharto tahun 1992. (sumber: AFP , 20 Mei 1998; Australian Financial Review , 27 Mei 1998; hompage: www.lilybank.co.nz ; hasil investigasi lapangan G.J. Aditjondro ke Lilybank, bulan Februari 1998).


Di Australia

Kapal pesiar mewah (luxury cruiser ) milik Tommy Suharto seharga Aust$ 16 juta (1 Aust$ = Rp 5.000), yang diparkir di Cullen Bay Marina di Darwin. Merger antara perusahaan iklan ruang asal Melbourne, NLD, dengan kelompok Humpuss milik Tommy & Sigit, tahun 1997, berbarengan dengan pembelian saham perusahaan iklan ruang terbesar di Malaysia, BTABS (BT Advertising Billboard Systems), memberikan Tommy dan partner Australianya, Michael Nettlefold, konsesi atas billboards di sepanjang freeways di Negara Bagian Victoria, Australia, serta sepanjang jalan-jalan toll NLD-Humpuss di Malaysia, Filipina, Burma dan Cina.

Perjanjian persekutuan strategis (strategic alliance) antara Kelompok Sahid milik Keluarga Sukamdani Gitosarjono dengan Kemayan Hotels and Leisure Ltd., yang ditandatangani bulan Desember 1997, memungkinkan Sahid ikut memiliki 50 hotel milik Park Plaza International (Asia Pacific) di kawasan Asia-Pasifik serta 180 hotel Park Plaza di AS. Dengan demikian, 24 hotel milik kelompok Sahid di Indonesia dan Medinah, Arab Saudi, diganti namanya menjadi Sahid Park Plaza Hotel. Harap diingat bahwa Sukamdani Gitosardjono, sejak 28 Oktober 1968 menjabat sebagai Ketua Harian Yayasan Mangadeg Surakarta, yang didirikan dengan dalih membangun dan mengelola kuburan keluarga besar Suharto. Jadi tidak tertutup kemungkinan, bahwa ekspansi Kelompok Sahid ke Arab Saudi, AS, dan Asia-Pasifik melalui Kelompok Kemayan/Park Plaza ini, juga memperluas sumber pendapatan keluarga Suharto di berbagai negara itu. (sumber-sumber: Tempo , 3 Desember 1977: 8-9; Info Bisnis , Juli 1994: 9-23; Kontan , 10 Maret 1997; Australian Financial Review , 17 Desember 1997, 13 Maret 1998; Weekend Australian , 10-11 Agustus 1998; Sydney Morning Herald , 17 Agustus 1996, 11 Desember 1997, 6 April 1998; The Suburban , Darwin, 11 Juni 1998; Port Phillip/Caulfield Leader , 22 Juni 1998; sumber-sumber lain).


Di Singapura

Perusahaan tanker migas milik Bambang Trihatmodjo dkk, Osprey Maritime, yang total memiliki 30 tanker, dengan nilai total di atas US$ 1,5 milyar (US$ 1 = Rp 10.000). Sejak Juni 1996, dua tanker Osprey, yakni Osprey Alyra dan Osprey Altair, dikontrak oleh Saudi Basic Industrial Corporation untuk mengangkut minyak dan produk-produk petrokimia dari Arab Saudi ke mancanegara. Dengan akuisisi perusahaan tanker Norwegia yang terdaftar di Monaco, Gotaas-Larsen, oleh Osprey Maritime yang disepakati bulan Mei 1997, perusahaan milik Bambang Trihatmodjo ini menjadi salah satu maskapai pengangkut migas terbesar di Asia. (sumber-sumber: Economic & Business Review Indonesia , 5 Juni 1996; Asiaweek , 23 Mei 1997: 65; LNG Current News , 13 Februari 1998).

Perusahaan tanker migas milik Tommy & Sigit, Humpuss Sea Transport Pte. Ltd., adalah anak perusahaan PT Humpuss INtermoda Transport (HIT), yang pada gilirannya adalah bagian dari Humpuss Group. Tapi dengan berbasis di Singapura, perusahaan itu -- yang berpatungan dengan maskapai Jepang, Mitsui O.S.K. Lines -- dapat mengoperasikan ke-13 tanker migas dan LNGnya, lepas dari intervensi Pertamina pasca-Reformasi. Ini setelah berhasil menciptakan reputasi bagi dirinya sendiri berkat kontrak jangka panjangnya dengan Taiwan. Perusahaan Singapura ini pada gilirannya punya anak perusahaan yang berbasis di Panama, First Topaz Inc. (sumber-sumber: Swa , Mei 1991: 45-46; Prospek , 18 Januari 1992: 40-43;Info Bisnis , November 1994: 12; Jakarta Post , 20 November 1997).


Di Malaysia, Filipina, Burma, dan Cina

Di ke-4 negara Asia ini, Siti Hardiyanti Rukmana masih menguasai jalan-jalan tol sebagai berikut :
166,34 Km jalan toll antara Wuchuan - Suixi - Xuwen di Cina;
83 Km Metro Manila Skyway & Expressway di Luzon, Filipina;
22 Km jalan toll antara Ayer Hitam dan Yong Peng Timur, yang merupakan bagian dari jalan tol Proyek Lebuhraya Utara Selatan sepanjang 512 Km yang menghubungkan Singapura, Johor, sampai ke perbatasan Muangthai di Malaysia;
?? Km jalan toll patungan dengan Union of Myanmar Holding Co. di Burma. (sumber-sumber: Info Bisnis , Juni 1994: 11-12; Swa , 5-18 Juni 1997: 47; AP , 21 Februari 1997; Economic & Business Review Indonesia , 5 Maret 1997: 44). Sumber : http://www.hamline.edu/apakabar/index.html
dan http://kontak.club.fr/index.htm.

Itulah sekedar daftar "sebagian kecil" kekayaan keluarga Soeharto yang rasanya sangat perlu diketahui oleh rakyat (dan juga kroni-kroninya yang "nggak tahu" yang cuma meng-agungkan "jasa" Soeharto!). Jadi kalau ada yang bicara soal harta kekayaan mereka di luar negeri, maka hal itu bukanlah sekedar omongan ngawur! Begitulah keluarga Soeharto!

Nah, Soeharto "besar jasanya" kepada rakyat ataukah hanya kepada keluarga dan kroninya? Coba timbang sendiri!

Mereka telah mendapat "gajah" dari rakyat dan bumi Indonesia, namun mereka hanya memberikan kacang sebagai imbalannya! Begitulah jasa dan praktek Soeharto dan kroninya terhadap rakyat Indonesia!

Ada lagi "jasa" Soeharto yang tidak bisa dilupakan!. "Soeharto meninggalkan utang, bukannya Rp 1.500 triliun akan tetapi Rp 1.800 triliun! Tepatnya 800 miliar dolar AS.

Jika utang tersebut dibagi-bagikan kepada 200 juta penduduk Indonesia, maka setiap kepala dibebani utang Rp 9 juta!

Nah, siapa yang menyebabkan negara ini berutang begitu besar? Tidak lain tidak bukan adalah Soeharto, karena angka itu adalah posisi awal utang Indonesia saat Soeharto dilengserkan pada Mei 1998!

Saat Soeharto turun, akhirnya terungkap sebanyak 30% utang luar negeri itu atau sedikitnya Rp 540 triliun dikorupsi oleh Soeharto dan kroni-kroninya".

Nah kita bisa lihat bagaimana ‘moral" Soeharto, orang yang dianggap "bapak pembangunan". Hutang Negara yang mestinya digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan Negara, eeee....... taunya masuk kantongnya Soeharto dan kroninya! Lantas, kemudian rakyat yang mesti membayar kembali! Bapak pembangunan apaan seperti ini? Rakyat cuma dikelabui, membangun gedung pencakar langit, namun sekian persen untuk kantongnya Soehato! Inilah "jasa" Soeharto!

Tidak heran kalau pada zamannya Soeharto berkuasa, masih ada anak yang berusia 9 tahun tidak sekolah (film dokumen Riding The Tiger), dan masih ada anak yang dimasa kecilnya sering mengalami kehidupan sulit, bahkan acap kali hanya makan "ondo" (umbi beracun yang tumbuh liar di hutan) karena setiap tahun dilanda paceklik. Disaat memasuki usia sekolah, masuk sekolah dasar yang hanya berdinding bambu, meja bambu, berlantai tanah dan beratap rumbia. Ke sekolah tidak menggunakan alas kaki dan bila hujan menggunakan payung daun pisang. Begitulah "nasib" kanak-kanak dalam zaman pemerintahan Soeharto, sedang kroni-kroninya Soeharto hidup dalam kekayaan yang berlimpah dan berlebihan! Tidak heran kalau kemudian Indonesia dilanda kesengsaraan yang hebat, 100 juta anak bangsa menjadi miskin dan 13 juta kanak-kanak kekurangan makan! Begitulah "jasa" yang ditinggalkan Soeharto!Pepatah mengatakan, "gajah mati meninggalkan gading", tapi Soeharto mati meninggalkan hutang!

"Kini, setelah 10 tahun sejak diturunkan, (bahkan setelah matinyapun-pen), Soeharto, sebenarnya masih menyusahkan rakyat!. Setiap tahun, negara tetap membayar utang-utang tersebut. Data yang dilansir Bank Indonesia, posisi terakhir utang luar negeri kita adalah 176,55 miliar dolar AS atau Rp 1.589 triliun (kurs Rp 9.000 per dolar AS).

Mungkin, bahwa utang ini tidak berdampak langsung bagi anda. Tapi tahukah anda, lebih dari separuh APBN, dipakai hanya untuk membayar utang-utang tersebut plus bunganya. Artinya, anggaran yang semestinya dipergunakan untuk, misalnya, membangun jalan, memperbaiki gedung sekolah, dan segala fasilitas umum digerus habis oleh utang warisan Soeharto ini! (kutipan artikel dari Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI Effendi Choirie/http:kontak.club.fr/index.htm)

Supaya rakyat tahu dan melek, betapa "jasa besar" Jenderal Bintang Lima Soeharto dalam merusak ekonomi dan rakyat Indonesia! Nah, setelah rakyat tahu akan sebagian kecil "dosa besar" Jenderal Bintang Lima Soeharto yang mengibuli rakyat Indonesia itu, tentu rakyat akan heran, geleng-geleng kepala dan mengucap: "Masya Allah, Astaga, Busyet. Alaa mak...." ataupun mungkin bercarut-marut! Bagaimana dengan anda?

"Pak Harto memang orang besar. Tapi jangan lupa, kesalahannya juga besar!" ucap Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI Effendi Choirie ***

Australia, 7 Pebruari 2008

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih Atas Komen nya ya Boss smoga bermanfaat..

God Bless You

Beli Tiket Pesawat, Hotel