Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Beli Pulsa Listrik Disini

www.opulsa.com

Sunday, August 12, 2018

Perdamaian Indonesia Strategi Jitu Jokowi Menghadapi Jendral Kardus

Perdamaian Indonesia

Jokowi betul-betul sosok yang mencintai perdamaian. Ia mengabaikan calon-calon lain yang kuat, intelektual, muda, demi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih substansial—yaitu situasi Indonesia yang rukun.

Dengan begini pula, Jokowi mungkin ingin membuka mata para pembencinya yang tergabung dalam rombongan PA 212, GNPF Ulama, atau yang lainnya, bahwa Jokowi malah lebih berjiwa besar untuk memilih ulama sebagai pemimpin bangsa ketimbang Prabowo. Mereka berkoar-koar Prabowo akan memilih ulama dan Prabowo dekat dengan ulama, tetapi nyatanya yang Prabowo pilih adalah Sandiaga Uno.

Lalu, siapa yang lebih Islami dan memihak kepada ulama? Jokowi atau Prabowo? Mereka pasti akan pusing tujuh keliling dengan kenyataan yang sangat menyakitkan ini. Mereka sudah yakin 1000% persen bahwa pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan thogut yang harus dilengserkan, anti-Islam dan tidak berpihak kepada ulama. Mereka sudah yakin 1000% persen bahwa tagar #2019gantipresiden adalah kesempatan emas mereka untuk memajukan ulama sebagai pemimpin dan berpasangan dengan Prabowo. Mereka sudah 1000% yakin bahwa mereka sudah ada di pihak yang peduli pada ulama.

Nyatanya, apa yang mereka yakini itu berbolak-balik 180 derajat. Justru Jokowil-lah yang menggandeng ulama besar di negara ini, sementara junjungan mereka malah memilih petugas partai. Boro-boro mimpi Prabowo mengambil Rizieq Shihab, UAS, atau salah satu dari habib-ulama yang mereka usulkan, Prabowo malah memilih Sandiaga Uno.

Semoga pilihan ini betul-betul tepat dan menghasilkan apa yang diinginkan Jokowi dan koalisinya, dan masyarakat Indonesia secara umum. Kita sudah lelah dengan perdebatan yang mengadu urat leher, saling benci dan menyebarkan hoax hanya karena perasaan bahwa pemerintah saat ini tidak “Islam”. Bahwa pemerintah saat ini pro asing-aseng.

Dengan ditunjuknya Ma’ruf Amin, semoga separuh saja—jika saya boleh berharap—tidak wajib semuanya, karena itu tugas yang teramat sulit, pasukan kampret terbuka hatinya dan mulai memberikan kepercayaan kepada negara ini.

Kalian bisa melihat betul bagaimana Jokowi sangat memuliakan Islam dan ulama di negeri ini.

Respons Mahfud MD

Di tempat berbeda, Mahfud MD memberikan jawaban yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang negarawan. “Kita harus mengutamakan keselamatan negara ini daripada sekadar nama. Kita terima ini sebagai keputusan dan kita dukung negara ini agar bisa terus berjalan.” Meskipun nampaknya agak sedikit kecewa, saya bisa memakluminya, yang penting Mahfud MD sudah bersikap jantan.

Mahfud MD masih sangat muda jika diukur dalam usia politik, dan mengabdi kepada bangsa dan negara itu bisa melalui apa saja.


Hasil pilihan Jokowi sudah keluar, saya sungguh sempat menyangkanya sebagai Mahfud MD, apalagi setelah menonton video terakhirnya beberapa jam yang lalu, yang seolah mengiyakan bahwa dialah yang telah dipilih Jokowi.

Ok, jujur saja ini adalah kejutan yang agak mengecewakan. Saya sungguh senang betul ketika seolah-olah Mahfud MD-lah yang menjadi cawapres. Menurut saya, Mahfud sosok yang nyaris sempurna, ia seorang agamawan, pengalamannya sudah di eksekutif, legislatif, bahkan yudikatif. Dan ia seorang intelektual yang layak disimak ketika berbicara. Cerdas dan tajam.

Tapi bagaimanapun, saya sudah katakan, siapa pun pilihan Jokowi, saya tidak peduli karena yang paling penting bagi saya—dan kita semua, warga Seword—Jokowi-lah yang utama. Selama pemimpinnya Jokowi, saya akan mendukungnya. Memang rasanya akan jauh lebih mengesankan jika Jokowi memilih Mahfud MD, tapi, ya sudahlah. Saya yakin ini adalah strategi kemenangan gaya Jokowi, merangkul lawan menjadi kawan.

Ma’ruf Amin memang bukan “lawan” Jokowi, tetapi ia pernah menjadi junjungan tujuh juta ummat yang berkumpul di Monas pada masa Ahok lalu. Ingat apa nama kelompok mereka saat itu: GNPF MUI (Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia). Siapa itu? Ma’ruf Amin. Artinya, bagi warga seberang, Ma’ruf Amin adalah sosok yang mereka hormati dan pernah dijunjung tinggi fatwanya—mengenai Ahok.

Pada awal 2017 kemarin, pengacara Ahok dan Ahok pernah dikecam dan dipolisikan karena dianggap menghina Ma’ruf Amin. Nah, sekarang, apa mereka mau menjilat ludahnya sendiri dengan menghina Ma’ruf Amin, hanya karena ia adalah wakil Jokowi? Apakah mereka akan mengatakan bahwa PDIP dan koalisinya adalah partai penghina Islam dan anti-Islam lagi?

Strategi ini, akan menampar bolak-balik wajah para pembenci Jokowi yang menuduh Jokowi antek China, PKI, dan anti-Islam, setelah ia menggandeng Ma’ruf Amin yang menjadi pemimpin ulama Indonesia secara legal-formal (MUI). Bukannya diangkat-angkat saja seperti Rizieq Shihab.


Tertawa ha ha ha ha ha

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih Atas Komen nya ya Boss smoga bermanfaat..

God Bless You

Beli Tiket Pesawat, Hotel